Memandangi lautan biru, tentu kurang afdhol jika tidak diabadikan dalam
jepretan kamera. Gugusan pulau kecil yang terserak, terlihat seperti
penambah daya tarik. Mereka seperti pion-pion catur yang terhampar di atas
papan luas tak bertepi yang berwarna biru. "Apakah Tom Hank masih ada di
salah satu pulau kecil itu? Mungkin tidak ada salahnya meminta kapten kapal
untuk sejenak menepi dan melihat kondisi."
"Tom Hank sudah di jemput oleh kapal ferry sebelumnya Mas", seseorang di
sebelah menimpali sambil tersenyum.
"Ow, begitu ya", dari yang awalnya hanya bergumam, bersambut menjadi sebuah
percakapan. "Bagaimana kapal sebelumnya bisa tahu kalau si Tom Hank ada di
situ?", ku sambut celetukan dari orang sebelah dengan sebuah pertanyaan agar
pembicaan menjadi panjang.
Deru ombaknya menggebu menghantam pasir di pinggir pantai. Semilir angin menerbangkan hawa segar yang menerpa wajah dengan santai. Anjing guk guk berlarian berkejaran kadang saling menyeringai. Para bule menyiapkan kayu bakar dan sebagian lagi menyeruput kopi di dalam kedai.
Itu lah yang kulihat di pantai Sekongkang di kala senja. Semburat warna merah telah membelah langit angkasa. Matahari sudah menyiapkan bantal guling dalam peraduannya. Pertanda malam gelap akan segera tiba.
Di garis horizon, kupandangi para peselancar yang masih bermain di atas gulungan ombak. Seketika mereka jatuh saat ombak tersibak. Terhempas ke dalam laut, lalu hanyut. Saat mereka berhasil mengendalikan diri, mereka kembali. Berenang ke arah horizon, menunggu ombak datang, untuk mereka kendalikan lagi.
Empat bulan yang lalu sepasang sandalku njepat (terkelupas) di sisi bagian belakang. Jika di buat jalan, terdengar seperti ada suara gema yang muncul dari belakang sandal. Bunyinya seperti ini, "njepat... njepat.... njepat....". Pendengaranku yang tajam segera memahami bahasa kode itu. "Oke sendal, jika kamu mau pensiun akan saya approve. Tapi last day mu tetap harus menunggu sampai ada rekrutan baru yang bisa mengganti posisimu. Sebelum suksesormu datang, tolong tahan, jangan teriak njepat njepat lagi". Dan dia pun terdiam. Ku anggap dia sudah mengerti karena tidak ada response apapun. Maklum, Alteco menutup rapat mulutnya.
Saat ke Bandara Juanda Surabaya, ada moment yang sangat mengesankan dan sepertinya tidak akan mudah dilupakan. Saat itu di bulan Mei 2006. Terminal yang ada masih terminal lama (saat ini sudah diubah namanya menjadi Terminal 2. Terminal 1 masih dalam proses pengerjaan dan sudah masuk tahap finishing). Jika sebelumnya terbang dari bandara Juanda di biayai oleh perusahaan, kali ini, untuk pertama kalinya ongkosnya keluar dari dompet pribadi. Maklum, urusan pribadi. Kota tujuan adalah Batam, kepulauan Riau. Dengan membawa motor Honda GL MAX, sepeda motor langsung kuarahkan ke arah Parkiran. Setelah motor parkir dengan sempurna, baru kusadari kalau area parkiran itu adalah khusus untuk karyawan. Yah sudahlah, di urus nanti saja pikirku. Tanpa tolah toleh kiri kanan, segera diriku bergegas ke konter tiket terdekat. Yang tidak begitu jauh dari area parkiran. Sempat terdengar ada orang teriak, "mas.... mas....", itu pasti manggil orang lain yang parkir nya di belakangku, pikirku.
Pagi-pagi sekali kami bersiap untuk berangkat menelusuri jalanan berdebu. Estimasi kami, dengan melewati tol panjang trans java, perjalanan akan kami tempuh sekitar 3-4 jam. Apalagi ada Google Maps, peluang untuk nyasar tentu bisa diminimalisir. Setelah semua dipastikan telah siap, kami pun berangkat. Dan benar, sepanjang tol trans java, semua lancar terkendali. Exit tol bisa kami capai dalam waktu kurang lebih 2 jam 30 menit.
Kopyah vs. Capil
Setelah tap kartu tol di pintu keluar, perlahan kami melipir ke kiri dan berhenti sambil menunggu rombongan yang lain. Oiya, perjalanan yang kami lalui dalam rangka acara keluarga. Paling tidak, ada 4 mobil dari daerah yang berbeda menuju ke tempat sama, dan sebelumnya kami sudah janjian untuk bertemu di exit tol di kota M. Kota yang terkenal dengan menu makanan khas di pagi hari.
Saat mendengar lagu ini, di tengah malam begini, khayalanku langsung tertuju ke sebuah kota.
♫ Pulang ke kotamu ♫ ♫ Ada setangkup haru dalam rindu ♫ ♫ Masih seperti dulu ♫ ♫ Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna ♫
♫ Terhanyut aku akan nostalgi ♫ ♫ Saat kita sering luangkan waktu ♫ ♫ Nikmati bersama ♫ ♫ Suasana Jogja ♫
Tapi maaf seribu maaf kalau membuat kecele☺✌ . Bukan kota Jogja seperti dalam lagunya Kla Project yang kumaksud. Kota itu adalah .......... Kota Malang.....
Di facebook, seorang teman menginformasikan bahwa di Medan terdapat kerang rebus yang rasanya mantab. Sebagai seorang perantauan yang doyan kerang rebus dan baru pertama kalinya menginjakkan kaki di Medan, tentu informasi ini tidak bisa kuabaikan begitu saja.
Berbekal sebuah alamat tidak jelas, coba kutelusuri jejak-jejak pedagang kerang rebus di google maps. Akh, akhirnya dapat juga. Berangkat!!!
Sampai ditempat, yang kutemukan hanya ruko tertutup yang parkirannya dipenuhi mobil. Byuh, pedagangnya mana???